Nama Mahasiswa
: Putri Septiani Nama
Asisten : Fathin Nibras
NPM : 17513044
Tanggal Pemeriksaan : 14 Juni 2014 Tanda Tangan Asisten :
1. Percobaan : Indera Pendengaran
Pendengaran (pengantar aerotymponal ( udara ),
craniotymponal ( tulang ))dalam pendengaran.
Nama Pecobaan :
1.1 Percobaan Rine
Nama Subjek Percobaan : Putri Septiani
Tempat Percobaan :
Laboratorium Psikologi Faal Universitas Gunadarma
a. Tujuan
Percobaan : 1.1 Percobaan Rine
Untuk membuktikan bahwa transmisi udara lebih baik
dari pada tulang.
b. Dasar
Teori : 1.1 Percobaan
Rine
Pitch dan Loudnes. Suara yang dibedakan tekanannya
berkolerasi dengan gelombang sinus. Suara semacam itu disebut nada murni (pure
tone). Siklus gelombang menuju kompresi dan ekspansi udara seperti suara
geombang yang selalu bergerak. Kedua karakteristik utama gelombang seperti itu
adalah frekuensi dan amplitudo. Frekuensi diukur dengan jumlah getaran
perdetik; yaitu beberapa kali perdetik sampai siklus gelombang suara diulang.
Unit Hertz (singkatan Hz) digunakan untuk menunjukkan sikus perderik; yaitu
suatu siklus perdetik sama dengan satu Hz. Amplitudo berhubungan dengan jumlah
kompresi dan ekspansi udara, seperti digambarkan oleh panjangnya gelombang dimulai
dari puncak sampai dasar kurva. Frekuensi gelombang suara pada dasarnya
merupakan penyebab dari apa yang kita alami sebagai pitch (tingkatan nada).
Namun pitch sebuah nada dapat juga dipengaruhi oleh intensitas. Jadi, 'pitch'
pun hanya terkait pada satu atribusi fisik stimulus. Demikian pula, 'loudness'
(kerasnya suara) berkolerasi dengan kuat pada amplitudo gelmbang atau
intensitas suara. Namun demikian, gelombang suara berfrekuensi rendah yang
mempunyai amplitudo sama dengan suara berfrekuensi tinggi tidak selalu
menghasilkan suara yang sama keras. Manusia dapat mendengar frekuensi anrata
20- 20.000 Hz. Hal diatas dapat kita buktikan pada bunyi piano yang
menghasilkan frekuensi dari lebih kurang 27 sampai 4.200 Hz. Tida semua species
dapat mendengar dengan rentang frekuensi yang sama, sebagai contoh peluit untuk
memanggil anjing yang menggunakan nada terlalu tinggi frekuensinya bagi telinga
kita. Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar,
tengah, dan dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan suara dan mengubahnya
menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Telinga tengah menghubungkan
gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Di telinga
tengah ini, gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati
tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis; adanya
ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang
telinga. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan
menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia.
Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang
sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar.
c. Alat
yang digunakan : 1.1 Percobaan Rine
Garpu Tala
d. Jalan
Percobaan : 1.1
Percobaan Rine
Praktikan akan diberikan alat yang bernama Garpu
Tala oleh asissten. Kemudian praktikan menghentakkan garpu tersebut ke arah
kursi yang ada didepan praktikan atau yang praktikan duduki lalu arahkan garpu tersebut
ke atas kepala kemudian ke depan telinga. Selanjutnya praktikan menghentakkan kembali garpu
tersebut ke kursi kemudian letakan di belakang telinga praktikan sampai
getarannya hilang dan letakan kembali ke depan telinga praktikan.
e. Hasil
Percobaan : 1.1
Percobaan Rine
Hasilnya, suara garpu tala tidak terdengar ketika
diletakkan di atas kepala masih terdengar ketika garpu tala diletakkan didepan
lubang telinga. Samakan besar getaran garpu tala, samakan berat suaranya garpu
tala di telinga sejajar dan suaranya bagus, pada orang beraktivitas thympany
kurang bagus sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi dengan
baik. Membran thympany mengantarkan maleus, iney, stapes sehingga terdengar
suara.
f. Kesimpulan : 1.1 Percobaan Rine
Ketika nada garpu tala tidak terdengar lagi dipuncak
kepala, tetapi ketika diletakkan dilubang telinga nada suara masih terdengar.
Ketika nada suara garpu tala tidak tedengar lagi dibelakang telinga, tetapi
ketika diletakkan dilubang telinga nada masih terdegar. Semakin besar garpu
tala makin berat suara garp tala sejajar maka hantaran suaranya bagus. Ketika
garputala bergetar, terdapat urutan gelombang komprensi dan ekspansi. Bunyi
yang tekanannya terkorelasi dengan gelombang sinus disebut nada murni, bentuk gelombang
bunyi apapun (tidak peduli betapa kompleksnya) dapat dipecah menjadi
serangkaian gelombang sinus yang berbeda dengan amplitudo yang sesuai. Bila
gelombang sinus tersebut dirambahkan lagi, hasilnya akan sama dengan bentuk
gelombang aslinya
g. Daftar
Pustaka : 1.1
Percobaan Rine
Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N,. Aritomoyo, D,. (2010). Diagnosis Kekurangan Pendengaran.
http://www.kalbe.co. id/. 06 Maret 2010. 19.50.
NN.(2010).
Kebisingan Suara. http://htts.wordpress.com/. 06 Maret 2010. 15.45
Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard, E.R.
(1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. &
Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar