Senin, 09 Juni 2014

Indera Pendengaran - Percobaan Rine



Nama Mahasiswa       : Putri Septiani     Nama Asisten    : Fathin Nibras
NPM                           : 17513044
Tanggal Pemeriksaan : 14 Juni 2014      Tanda Tangan Asisten :

1.         Percobaan                                :  Indera Pendengaran
Pendengaran (pengantar aerotymponal ( udara ), craniotymponal ( tulang ))dalam pendengaran.
Nama Pecobaan                      : 1.1 Percobaan Rine
Nama Subjek Percobaan         : Putri Septiani
Tempat Percobaan                   : Laboratorium Psikologi Faal Universitas Gunadarma
a.         Tujuan Percobaan        : 1.1 Percobaan Rine
Untuk membuktikan bahwa transmisi udara lebih baik dari pada tulang.
b.         Dasar Teori                  : 1.1 Percobaan Rine
Pitch dan Loudnes. Suara yang dibedakan tekanannya berkolerasi dengan gelombang sinus. Suara semacam itu disebut nada murni (pure tone). Siklus gelombang menuju kompresi dan ekspansi udara seperti suara geombang yang selalu bergerak. Kedua karakteristik utama gelombang seperti itu adalah frekuensi dan amplitudo. Frekuensi diukur dengan jumlah getaran perdetik; yaitu beberapa kali perdetik sampai siklus gelombang suara diulang. Unit Hertz (singkatan Hz) digunakan untuk menunjukkan sikus perderik; yaitu suatu siklus perdetik sama dengan satu Hz. Amplitudo berhubungan dengan jumlah kompresi dan ekspansi udara, seperti digambarkan oleh panjangnya gelombang dimulai dari puncak sampai dasar kurva. Frekuensi gelombang suara pada dasarnya merupakan penyebab dari apa yang kita alami sebagai pitch (tingkatan nada). Namun pitch sebuah nada dapat juga dipengaruhi oleh intensitas. Jadi, 'pitch' pun hanya terkait pada satu atribusi fisik stimulus. Demikian pula, 'loudness' (kerasnya suara) berkolerasi dengan kuat pada amplitudo gelmbang atau intensitas suara. Namun demikian, gelombang suara berfrekuensi rendah yang mempunyai amplitudo sama dengan suara berfrekuensi tinggi tidak selalu menghasilkan suara yang sama keras. Manusia dapat mendengar frekuensi anrata 20- 20.000 Hz. Hal diatas dapat kita buktikan pada bunyi piano yang menghasilkan frekuensi dari lebih kurang 27 sampai 4.200 Hz. Tida semua species dapat mendengar dengan rentang frekuensi yang sama, sebagai contoh peluit untuk memanggil anjing yang menggunakan nada terlalu tinggi frekuensinya bagi telinga kita. Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Di telinga tengah ini, gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis; adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar.
c.         Alat yang digunakan   : 1.1 Percobaan Rine
Garpu Tala
d.         Jalan Percobaan                       : 1.1 Percobaan Rine
Praktikan akan diberikan alat yang bernama Garpu Tala oleh asissten. Kemudian praktikan menghentakkan garpu tersebut ke arah kursi yang ada didepan praktikan atau yang praktikan duduki lalu arahkan garpu tersebut ke atas kepala kemudian ke depan telinga. Selanjutnya  praktikan menghentakkan kembali garpu tersebut ke kursi kemudian letakan di belakang telinga praktikan sampai getarannya hilang dan letakan kembali ke depan telinga praktikan.
e.         Hasil Percobaan                      : 1.1 Percobaan Rine
Hasilnya, suara garpu tala tidak terdengar ketika diletakkan di atas kepala masih terdengar ketika garpu tala diletakkan didepan lubang telinga. Samakan besar getaran garpu tala, samakan berat suaranya garpu tala di telinga sejajar dan suaranya bagus, pada orang beraktivitas thympany kurang bagus sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi dengan baik. Membran thympany mengantarkan maleus, iney, stapes sehingga terdengar suara.
f.          Kesimpulan                 : 1.1 Percobaan Rine
Ketika nada garpu tala tidak terdengar lagi dipuncak kepala, tetapi ketika diletakkan dilubang telinga nada suara masih terdengar. Ketika nada suara garpu tala tidak tedengar lagi dibelakang telinga, tetapi ketika diletakkan dilubang telinga nada masih terdegar. Semakin besar garpu tala makin berat suara garp tala sejajar maka hantaran suaranya bagus. Ketika garputala bergetar, terdapat urutan gelombang komprensi dan ekspansi. Bunyi yang tekanannya terkorelasi dengan gelombang sinus disebut nada murni, bentuk gelombang bunyi apapun (tidak peduli betapa kompleksnya) dapat dipecah menjadi serangkaian gelombang sinus yang berbeda dengan amplitudo yang sesuai. Bila gelombang sinus tersebut dirambahkan lagi, hasilnya akan sama dengan bentuk gelombang aslinya


g.         Daftar Pustaka                        : 1.1 Percobaan Rine
Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N,. Aritomoyo, D,.  (2010). Diagnosis Kekurangan Pendengaran. http://www.kalbe.co. id/. 06 Maret 2010. 19.50.
 NN.(2010). Kebisingan Suara. http://htts.wordpress.com/. 06 Maret 2010. 15.45
Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard, E.R. (1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar