Nama Mahasiswa
: Putri Septiani Nama
Asisten : Fathin Nibras
NPM : 17513044
Tanggal Pemeriksaan : 14 Juni 2014 Tanda Tangan Asisten :
1. Percobaan : Indera Pendengaran
Pendengaran (pengantar aerotymponal ( udara ),
craniotymponal ( tulang ))dalam pendengaran.
Nama Percobaan :
1.2 Tempat Sumber Bunyi
Nama Subjek Percobaan : Putri Septiani
Tempat Percobaan :
Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan
Percobaan : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Untuk menentukan sumber bunyi.
b. Dasar
Teori : 1.2 Tempat Sumber
Bunyi
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi
ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan
penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan
berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan
mendengar. Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya
energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan
fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran
ke organ Corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga, kerusakan
tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan langsung organ Corti. Penderita
biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan
kehilangan pendengaran. Noise-Induced Temporary Threshold Shift. Pada keadaan
ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya
pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Untuk menghindari kelelahan
auditorik, maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia
Kedokteran No. 144, 2004 25 setelah pajanan suara. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level
suara, durasi pajanan, frekuensi yang diuji, spektrum suara, dan pola pajanan
temporal, serta faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status
kesehatan, obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga
menimbulkan kerusakan permanen), dan keadaan pendengaran sebelum pajanan.
Memeriksa pendengaran. Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini
berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Pada anamnesis
biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang
bising, jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara,
berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau merasa keberatan jika
orang berbicara tidak jelas, dan sering timbul tinitus. Biasanya pada proses
yang berlangsung perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh
pekerja bersangkutan; untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu
juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. Pada pemeriksaan
fisik, tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga.
Pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan
seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan
pendengaran seperti infeksi telinga, trauma telinga karena agen fisik lainnya,
gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. Selain itu pemeriksaan saraf
pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat
yang (dapat) menggangggu pendengaran. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne,
Weber, dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf.
c. Alat
yang digunakan : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Pipa karet
d. Jalan
Percobaan : 1.2
Tempat Sumber Bunyi
Asissten memberikan pipa karet lalu meletakan pipa
tersebut ke depan telinga kanan dan kiri praktikan dan praktikan memegang pipa
yang diletakan oleh asissten di depan telinga tersebut lalu asissten memencet
bagian tengah,kanan dan kiri.
e. Hasil
Percobaan : 1.2
Tempat Sumber Bunyi
Hasilnya, jika masih bisa membedakan mana kanan dan
mana kiri maka masih disebut normal. Dan membedekan bagian tengah cukup sulit
dan hasil saya adalah :
Benar Salah
3 0
f. Kesimpulan : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Kalau masih bisa membedakan bunyi kanan dan kiri
saat percobaan menggunakan pipa karet masih normal. Untuk membedakan bunyi pada
bagian tengah memang cukup sulit. Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran
akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran, yaitu selisih
antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran
setelah adanya pajanan bising. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat
berlangsung sementara namun dapat juga menetap.
g. Daftar
Pustaka : 1.2 Tempat
Sumber Bunyi
NN. (2010). Kebisingan Suara.
http://htts.wordpress.com/. 06 Maret 2010. 19.45
NN. (2007). Si Penyebab
Kepala Berputar. http://www.majalah-farmacia.com/. 06 Maret 2010. 16.39.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar