Senin, 09 Juni 2014

Indera Pendengaran - Tempat Sumber Bunyi



Nama Mahasiswa       : Putri Septiani     Nama Asisten    : Fathin Nibras
NPM                           : 17513044
Tanggal Pemeriksaan : 14 Juni 2014      Tanda Tangan Asisten :


1.         Percobaan                                :  Indera Pendengaran
Pendengaran (pengantar aerotymponal ( udara ), craniotymponal ( tulang ))dalam pendengaran.
Nama Percobaan                     : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Nama Subjek Percobaan         : Putri Septiani
Tempat Percobaan                   : Laboratorium Psikologi Faal
a.         Tujuan Percobaan        : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Untuk menentukan sumber bunyi.
b.         Dasar Teori                  : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan langsung organ Corti. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Noise-Induced Temporary Threshold Shift. Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Untuk menghindari kelelahan auditorik, maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 25 setelah pajanan suara. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara, durasi pajanan, frekuensi yang diuji, spektrum suara, dan pola pajanan temporal, serta faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status kesehatan, obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen), dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. Memeriksa pendengaran. Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising, jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara, berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas, dan sering timbul tinitus. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan; untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. Pada pemeriksaan fisik, tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. Pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga, trauma telinga karena agen fisik lainnya, gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne, Weber, dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf.
c.         Alat yang digunakan   : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Pipa karet
d.         Jalan Percobaan                       : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Asissten memberikan pipa karet lalu meletakan pipa tersebut ke depan telinga kanan dan kiri praktikan dan praktikan memegang pipa yang diletakan oleh asissten di depan telinga tersebut lalu asissten memencet bagian tengah,kanan dan kiri.
e.         Hasil Percobaan                      : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Hasilnya, jika masih bisa membedakan mana kanan dan mana kiri maka masih disebut normal. Dan membedekan bagian tengah cukup sulit dan hasil saya adalah :
Benar   Salah
   3          0

f.          Kesimpulan                 : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
Kalau masih bisa membedakan bunyi kanan dan kiri saat percobaan menggunakan pipa karet masih normal. Untuk membedakan bunyi pada bagian tengah memang cukup sulit. Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran, yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap.
g.         Daftar Pustaka                        : 1.2 Tempat Sumber Bunyi
NN. (2010). Kebisingan Suara. http://htts.wordpress.com/. 06 Maret 2010. 19.45
NN. (2007). Si Penyebab Kepala Berputar. http://www.majalah-farmacia.com/. 06 Maret 2010. 16.39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar